Mar 03 2011

RUMAH TANPA JENDELA

Published by at 1:05 am under Uneg-uneg

Buka jendelamu …. buka hatimu …… Ditengah maraknya permasalahan perfilman di Indonesia terutama adanya isu atau rencana Asosiasi Perfilman Amerika Serikat yang akan menghentikan impor film Amerika ke Indonesia, akibat rencana pengenaan pajak yang dianggap terlalu tinggi. Namun ternyata  perfilman Indonesia masih secerah harapan, dimana film-film bermutu dan pernah sukses pemutarannya, seperti Ayat Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Sang Pencerah dan film-film bermutu lainnya masih dinanti masyarakat. Saat ini juga ada film Indonesia yang  berbobot dan tidak kalah menariknya dan penting serta patut ditonton.

Sejam yang lalu sebelum naskah ini ditulis, saya barusan nonton film 'Rumah Tanpa Jendela' (RTJ), mumpung masih hangat ingatan dan belum lupa maka langsung membuka komputer untuk menulis kesan cerita RTJ ini. Kesan pertama yang ada pada benak saya adalah rugi bila tidak nonton film ini apalagi tidak mengajak anak-anak atau istri.

Saya sengaja mengajak dua anak saya Brilliant dan Intan yang cukup antusias ketika aku ajak nonton. Namun sayang seribu sayang mamah atau ibunya anak-anak tidak berkesampatan untuk nonton bareng karena punya acara yang bersamaan, meskipun sebelum berangkat sempat pesan ‘tolong dikabari filmnya main jam berapa, barangkali masih sempat akan menyusul’.

Sebenarnya film RTJ ini cukup simple, sederhana baik dari segi cerita maupun penggarapannya, namun karena ditangani secara professional maka kesederhanaan ini menjadi sangat hebat dimana saya, karena cerita cukup menyentuh spiritual penonton, teknik pengambilan gambar cukup sempurna, soundtrack musik juga laras, ditambah pemeran cilik Emir Mahira dan Dwi Tasya yang lumayan teatrikalnya, didukung teman-temannya yang wajar.

Sekali lagi rugi kalau tidak nonton film ini, apalagi ditambah dengan pesan bahwa 100% hasil bersih tiket bioskop didonasikan untuk gerakan sosial melalui Dompet Dhuafa, berarti tidak ada ruginya sama sekali sudah mendapat hiburan sekaligus dorongan spiritual yang sekaligus memotivasi anak-anak dan mendidik anak dengan bantuan alur cerita film tersebut, tanpa harus banyak cerita langsung entry point dengan menekankan pada anak bahwa didalam film tersebut terdapat  ibroh atau pelajaran berharga dan sangat kental dengan hikmat bahwa kita harus pandai bersyukur, karena syukur adalah karunia yang paling tinggi dan sangat besar dari Allah SWT untuk mencapai keiklasan hidup, sehingga dalam keadaan apapun dan dalam keadaan bagiamanapun kita harus bersyukur, demikian kesan pesan yang saya selipkan pada anak-anak saat membonceng sepeda motor Supra 2001 saat terhenti di traffic light utara Balaikota  Timoho saat lampu merah, rupa-rupanya kedua anak saya tersebut dapat memahami dan menghayati makna dari cerita film tersebut, karena dengan tersipu dan cenderung diam serta berkaca-kaca seoalah-olah mengiayakan pernyataan saya. Ya memang bagi saya pesan film tersebut disamping menghibur karena diselingi lagu-lagu musikal, juga cukup mengharukan, jujur saya katakan ketika di gedung bioskoppun sempat meneteskan air mata haru, dan karena malu dengan anak-anak maka saya seka air mata yang keluar tersebut dengan diam-diam agar anak-anak tidak tahu kalau papahnya cengeng untuk yang satu hal ini.

Disamping itu ternyata juga dialami sama oleh beberapa tokoh, seperti Kak Seto (Pemerhati Anak), “Saya menangis menontonya, sangat menyentuh. Kisah seorang anak berkebutuhan khusus yang memiliki kebesaran jiwa, wajib tonton untuk seluruh anak Indonesia”; sedang Dewi Motik (Ketua Organisasi Wanita se-Asean) mengatakan, “Film yang sangat menyentuh hati yang terdalam. Membangun empati & simpati kita, harus ditonton seluruh keluarg, sanga hebat!”; Ismail A. Said (Presiden Direktur Dompet Dhuafa), “Saya sangat terharu, bahkan sempat meneteskan air mata, karena film ini sangat berjiwa dan bernafas. Peduli akan penderitaqan anak bangsa yang susah. Andai kita dapat mewujudkannya dalam keseharian kita”;  Rony Dozer (Komedian) "Film yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Nyesel yang nggak nonton";  Putut Widjanarko (CEO Mizan Production) "Saya suka dengan penampilan anak-anak dan lagu-lagunya. Menmpilkan dengan sangat bagus kehidupan yang mungkin kita tidak pernah tahu"; Yan Paertawijaya (Direktur Sinar Mas) "Sebuan film menyentuh yang membahas tentang cinta diantara keluarga yang memudar. Patut ditonton kita semua agar lebih memahami arti cinta untuk berbagi kepada sesama"; Djony Syafrudin (Ketua PPHUI) "Dalam era film dengan tema-tema yang kurang edukasinya, maka RTJ menjadi Film edukasi yang sarat dengan pesan. Film yang luar biasa!"; Pendeta Andreas P (Kepsek SD PSKD) "Mengharu biru, seru banget, bombastis, spektakuler, patut ditonton semua anak Indonesia. Pak Presiden wajib tonton film ini, dan banyak komentar tokoh-tokoh senada lainnya.

Untuk itu saya menghimbau tontonlah RTJ dan ajaklah anak istri/suami anda agar spiritual kita bangkit kembali untuk saling menghargai sesama dan mengambil ibroh dari pelajaran hubungan antara si kaya dan si miskin yang serasi saling membutuhkan. Bravo RTJ dan film Indonesia, produksi terus film yang bermutu dan mendidik, jangan kalah dengan produk Hollywood he he. (bei)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.